Senin, 23 Desember 2013

TENBHE :)

Gak kerasa udah 1 semester terlewatkan di kelas XI ini, yak kelas XI IPS 2 (Sosro). Gak tau kenapa aku kangen sama anak-anak XB, makanya kali ini aku pengen share tentang XB.
                Dulu wali kelasnya XB itu Bu. Utik , kelasnya rame, gokil, seru banget pokoknya. Nah ini dia makhluk-makhluk penghuninya…..
1.       Farid. Orangnya pendiam, gak banyak omong, dan kalau di kelas sering ngaji. Alim banget pokoknya.
2.       Sasha. Nah dia itu wakilnya Pencoba 1. Orangnya asyik dan baik juga. Dia juga pernah bilang kalau aku itu orangnya dikit-dikit ketawa, ya meskipun dia juga, tapi lebih seringan aku. Wkwkwk.
3.       Randy alias Jamur. Orang paling alay di XB. Eh tapi gitu-gitu dia ketua kelas lho, lumayan baik juga meskipun sering gak jelas gitu. Hobi banget maksa buat ikut suporteran. Hehe.
4.       Romzi. Ini orang juga sukanya diem aja kalau di kelas. Kalau diajak ngomong malah senyum dengan senyum khas nya, tapi dia pinter lho…!
5.       Ais. Orangnya cantik, baik, dan dia suka banget crita. Pernah waktu itu ada pelajaran batik, dia lupa gak bawa kainnya. Akhirnya kita berdua ngambil pakai sepeda, boncengan. Padahal rumahnya deket smp 6. Lebih parahnya setelah diambil gurunya gak datang-_- tak terlupakan, hehehe.
6.       Amal. Anaknya kecil, unyu, kalem, pendiem juga. Biasanya kalau di kelas mainnya sama hani, wulan dan yuan.
7.       Nisa alias anisandong. Dia suka sama orang, sebut aja botak, wkwkw. Orangnya baik, dan waktu kemah dialah malaikat buat pencoba 1. Dia yang bawa kompor, galon, bikin gapura, dll. Thank’s ya nisa, hehe.
8.       Dyan alias Ninuk. Gatau siapa yang pertama kali panggil dia ninuk. Yang pasti dia baik, cuma kadang-kadang agak loading, hehehe. Peace ya Dyan.
9.       Arief. Orangnya agak ga jelas, kadang bikin bingung juga. Tapi dia salah satu penyebab XB jadi rame. Wkwkwkw.
10.   Aswin. Orangnya pinter banget masalah TIK. Udah gitu aja.
11.   Awan. Ini dia yang sering dibully kalau di kelas, sabar ya.
12.   Dio. Dialah homonya XB, yakin tu orang homo banget, sukanya deket cowok-cowok gitu.
13.   Wulan. Nih anak juga super alay. Tapi meskipun gitu dia juga baik kok, sekerang dia sekelas sama aku di sosro.
14.   Ema. Inilah atlet voli dari XB. Orangnya baik dan suka pinjem catetan, wkwkwk. Trus kalau ulangan gitu sering ngapalin bareng, bahkan mapel sejarah yang banyak banget gitu bisa hafal berkat ngehafalin sama dia, sayang sekarang udah ga sekelas lagi. Beda jurusan malah. Kapan bisa ngapalin bareng lagi em???
15.   Balqis alias Emak. Dialah emaknya XB, gatau bapaknya siapa, haha. Dia baik, pinter bahasa jepang, kadang gak jelas, dan gak bisa diem.
16.   Guido. Aku gatau orangnya kek gimana, ketemu dia aja cuma waktu pbbn, habis itu gak pernah berangkat gara-gara sakit. Gws guido.
17.   Hanifah alias Ipeh. Dia agak pemalu gitu, awalnya dia itu ketua pencoba 3, tapi gara-gara digabung dia jadi ikut di pencoba 1, hehehe. Ketuanya jadi orang yang manisnya tanpa pemanis buatan ini(aku), hehe.
18.   Kevin. Biasanya anak-anak pada iseng ngasih kertas atau apa gitu ke rambutnya, kasian banget, sabar ya vin.
19.   Khiya alias Koanosit. Si penyuka patung/arca *dalam artian lain lho* ini teman yang baik. Orangnya agak pemalu juga. Waktu kemah dimana ada aku disitu ada dia juga, so sweet kan. Dasar uyyum, wkwkwk.
20.   Surya alias hap hap. Orangnya geje, alay dan ga jelas. Jail juga orangnya. Tapi gitu-gitu wakil ketua XB lho.
21.   Mei. Oranya baik tapi PD nya minta ampun, wkwkw. Gitu-gitu anak BHA. Po ra syangar???
22.   Nindya. Anak paling muda di XB. Orangnya suka baca buku-buku gitu, gatau buku apa aja, trus pakai kacamata.
23.   Toro. Dialah anak tonti yang kepilih paskib, orangnya geje gimana gitu, aneh pokoknya.
24.   Rada. Anak PLD dari XB, orangnya baik, lumayan asik juga.
25.   Muha. Bingung aku sama yang satu ini. Intinya anak rohis.
26.   Raihan alias subek. Orangnya kek gitu lah, cuma anak-anak pada bilang kalau dia punya senyum yang khas.
27.   Kiki alias kitong. Orangnya baik, Cuma aku bingung kalo dia ngomong, cepet banget ngomongnya, kayak gak pakai titik koma. Wkwkwkwk.
28.   Rose. Inilah teman seperjuanganku. Duduk sebangku, ekskul sama-sama tonti, paniatia ppapi sama-sama jadi PBB. Berasa tidak dapat dipisahkan. Dia ini temen curhatku, ya curhat tentang panda dll. Dia ini orang yang suka sama fluflafla flufli fliflafloflo. Gatau? Tanya aja langsung ke yang bersangkutan.
29.   Sita. Apa ya? Baik, kadang juga kepo. Hehehe.
30.   Taufan alias Steven. Gatau kenapa bisa dipanggil steven, padahal dinamanya gak ada kata yang nyebutkan itu. Mungkin hanya Tuhan yang tau. Orangnya kalau ngomong pelaaaaaan.
31.   Desi atau Dezi? Yang mana aja boleh. Ini nih anaknya bu Krisna, mirip banget. Orangnya kalau di kelas rajin nyatet. Sama hobi banget ngejekin aku-_-
32.   Wahyu. Gimana ya? Baik kok. Udah gitu aja.
33.   Yuan. Ini juga malaikat buat pencoba 1, dialah yang mau mengorbankan mobil untuk mengantarkan anak-anak pencoba 1 ke tempat kemah. Thank’s ya Yuan *peluk cium dari ketua terunyu*

34.   Aku. Tau gak? Ya pasti tau lah, anaknya kan baik, rajin menabung dan tidak sombong, wkwkwk.

Sabtu, 30 Maret 2013

Perjuanganku


Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Dalam kisahnya, ia harus berjuang, berdiam dan menunggu  pun juga adalah bagian dari perjuangan. Menunggu. Itulah yang selama ini kulakukan, sebagai wujud dari perasaanku yang entah mengapa masih ingin memperjuangkanmu.

Aku tahu, setiap malamku selalu kuisi dengan kenangan dan ingatan. Kenyataan yang harus kuterima, kautak ada di sampingku, entah untuk menenangkan sedihku dan merangkul kesepianku. Dengan sikapmu yang tidak peka seperti itu, mengapa aku masih ingin memperjuangkanmu? Aku tak tahu, jadi jangan tanyakan padaku mengapa aku juga bisa mencintaimu dengan cinta yang tak benar-benar kupahami.

Ketika aku mengingat suaramu mengalir di ujung telepon, ada perasaan rindu yang tidak benar-benar aku ungkapkan. Rindu yang kudiamkan, terlalu sibuk dalam penantian hingga berakhir pada air mata. Apakah kau tahu hal itu? Tentu tidak, kau tidak memedulikanku sedalam aku memedulikanmu. Tak ada cinta di matamu, sedalam cinta yang kupunya. Tapi, dengan kebutaan dan kebisuan yang kupunya, aku masih ingin mempertahankan "kita" yang sebenarnya membuahkan sakit bagiku.

Kekhawatiranku, yang tak pernah kuceritakan padamu, tentu tak pernah kau pikirkan. Doaku yang kusebutkan tentu tak seperti doa yang selalu kamu ucapkan. Perbedaan ini sungguh membuatku seakan tak mengerti apa-apa. Ketakutanku membungkam segalanya. Apakah kamu pantas diperjuangkan sejauh ini? Akankah kebersamaan kita punya akhir bahagia?

Aku takut.... aku takut dengan banyak hal yang diam-diam menyerang kita dari belakang. Kebersamaan kita, yang memang tak berjalan dengan mudah ini cukup membuatku lelah. Aku ingin berhenti memperjuangkanmu. Aku lelah dihantui kabut hitam yang menodai pencarianku selama ini. Aku inginkan matahari, bukan mendung seperti ini.

Di mana kamu ketika aku inginkan kamu di sini? Ke mana larinya kamu ketika aku berjuang untuk satu-satunya mahluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis.

Ini semua perjuangaku untuk mempertahanmu, apakah sudah cukup menghilangkan ketidakpekaanmu? Inilah perjuanganku, yang selama ini selalu kauabaikan L L L

Tentangmu: Di Bulan Juni



 Halo, Tuan. Masih ingatkah kau tentang Bulan Juni tahun lalu?? Bagiku itu adalah bulan yang sangat penting. Tapi entah bagimu, apa kau juga menganggap itu penting atau bahkan tidak sama sekali…hanya kau yang tau jawabannya.

Sungguh, kita sangat nyaman dengan ketidakjelasan seperti ini. Dulu, dulu sekali, satu tahun yang lalu, kedekatan kita adalah hal yang tak ingin aku sia-siakan. Bisakah manusia kecil seperti aku melawan kehendak Tuhan? Aku tidak sekuat itu. Perpisahan kita, yang terjadi tanpa dugaanku sebelumnya, tiba-tiba saja hadir. Kita, yang dulu adalah kutub selatan juga utara, yang saling tarik-menarik dan berdekatan, tak lagi punya alasan untuk berjalan sama-sama.

Tuan, aku sungguh tak percaya, hubungan kita yang berjalan singkat ternyata masih begitu melekat dalam ingatanku. Aku juga tak paham, mengapa sosokmu yang sempat begitu akrab di otakku telah berubah menjadi sosok yang tak lagi kukenal. Memang tidak ada kata pisah. Tidak juga ada ajakan untuk menyatukan aku dan kamu menjadi kita. Tapi, segalanya yang telah kulakukan bersamamu membawa kejutan dan kenangan tersendiri bagiku, entah bagimu.

Bolehkah aku bercerita tentang awal pertemuan kita? Mungkin, jika kamu menyempatkan diri untuk membaca, kamu akan bosan mendengar ceritaku. Pertemuan kita diawali dari sapaan terpendek di dunia, “Hai.” Cukup tiga huruf, dan itulah awal sederhana yang mengubah hidupku dan hidupmu. Sapa yang kaulayangkan dari chat facebook juga sms itu menjadi awal dari segalanya. Sapaan iseng itu mengantarkan kita pada satu titik, titik ternyaman saat kita saling berkenalan. Aku mengetahuimu. Kamu juga mengetahuiku. Meskipun semua hanya maya, meskipun tak nyata, meskipun hanya lewat tulisan; kamu berbeda dan aku suka.

Aku tau kamu gigih dan selalu berjuang untuk yang ingin kauperjuangkan, tapi entah mengapa kau tidak memperjuangkanku? Apa aku tak layak untuk diperjuangkan? Sudahlah, lupakan! Semua sudah lewat dan pertemuan kita harusnya bukan menjadi hal yang harus kusesali. Aku masih mengingat tentangmu. Semua tentang dirimu.

Tuan, sudah satu tahun, Bulan Juni 2012 memang sudah terlewat. Aku juga sudah berubah, kamu juga sudah pasti berubah. Kenangan kita, hari-hari kita, segala yang terjadi di antara kita pasti sudah berubah. Kamu mungkin sudah melupakanku, melupakan setiap detail diriku yang pernah kuperlihatkan padamu. Segalanya pasti sudah berubah. Tapi, kenangan tetap sama, meskipun orang-orang yang mengingatnya tak lagi sama.

Dulu, kita masih SMP. Sekarang aku dan kamu sudah merasakan bangku SMA. Dulu, kita begitu dekat. Sekarang, kita bahkan tak saling kenal. Logiskah jika kamu yang bahkan tak menganggap diriku bisa menyita perhatianku hingga sejauh ini?

Tuan, maafkan aku jika aku masih mengingatmu, masih ingin bercerita tentangmu, dan masih mengingat yang terjadi sewaktu kita masih bersama. Aku tahu ini semua salah, tapi menurutku bercerita tentangmu bukanlah hal yang salah.


Tiba-tiba, aku merindukanmu.

Sabtu, 19 Januari 2013

PERTEMUANKU DENGAN DIRIMU



Tidak semua pertemuan akan membekas. Beberapa peristiwa pertemuan ada yang begitu saja hilang, tak menimbulkan rasa apa-apa. Beberapa pertemuan lainnya tinggal dalam ingatan, bersemi lebih indah hingga memunculkan banyak rasa. Kalau aku boleh tau, pertemuan antara aku denganmu termasuk apa? Apakah pertemuanmu denganku berhasil memunculkan suatu perasaan? Ataukah tak melahirkan perasaan apapun? Aku ingin tahu, sangat ingin tahu, meskipun mustahil membangun percakapan denganmu. Karena kita terpisah oleh jarak yang cukup jauh. Dapatkan kerinduan ini mempersatukan kita kembali?
                Sini, sediakan telingamu, dengarkan ceritaku. Aku menyimpan rasa kagum padamu, ingat hanya rasa kagum. Percakapan kita terjalin begitu saja, walaupun tak lama segalanya kembali runtuh, entah karena kesalahanku atau tindakanmu yang tiba-tiba berubah. Setiap hari kau menyapa ku lewat mahkluk dingin bertubuh kaku yang bernama handphone itu memunculkan perasaan lain. Rasa kagum yang sulit untuk ku jelaskan, rasa penasaran yang ingin terus kuikuti. Mungkin semua ini salahku juga, akhirnya kamu menyadari bahwa segalanya tak lagi sama seperti pertemuan awal kita. Jika waktu turut andil, memang tak ada lagi yang sama seperti semula.
                Sekarang tak ada lagi kedekatan seperti dulu. Tak ada juga “hahahihi” yang selalu menghiburku di tengah dinginnya malam. Kita berjalan sendiri-sendiri, bahkan saat bertemu seakan tak pernah terjadi apapun, seakan tak pernah ada kedekatan yang terjalin diantara kita. Aku sadar semua memang sudah berlalu, sudah tak perlu lagi diungkit-ungkit juga dikenang. Bukan keinginan ku untuk menuntut, aku hanya ingin tahu, mengapa kau tiba-tiba berubah? Mengapa kedekatan kita-walaupun hanya sekedar percakapan bisu dalam bentuk tulisan tak lagi bisa terulang?
                Asal kau tahu, disini aku terdiam dan menunggumu, kadang aku meneteskan air mata untukmu. Kamu mungkin berusaha menjahuiku dan bahkan melupakanku dengan alasan yang benar-benar tidak kutahu. Mungkin, sekali lagi mungkin, kamu mengira aku ingin sesuatu yang lebih, sesuatu yang tak hanya sekedar autotext atau emoticon dalam bentuk tanda ataupun symbol. Tidak. Aku tidak akan menuntut sejauh itu, aku cukup paham, kamu bukan orang yang dengan mudah memberikan harapan untuk siapapun yang berusaha mengetuk pintu hatimu.
                Jadi, melalui surat ini, aku ingin memberitahukan padamu bahwa yang kita lewati dulu sungguh membuatku penasaran seperti apakah sifat aslimu. Namun, kau memutus rasa penasaranku dengan mengakhiri tanpa kata perpisahan. Tapi, kalau dipikir-pikir, untuk apa kata perpisahan? Aku dan kamu belum menyatu dan mungkin tak akan pernah menyatu.
                Diantara rasa angkuh dan rasa gengsiku, diantara jarak berkilo-kilo meter, diantara perasaan yang belum sempat kau tau, aku merindukan dirimu yang dulu.

Back To December

I'm so glad you made time to see me.
How's life, tell me how's your family?
I haven't seen them in a while.
You've been gone, busier then ever.
We small talk, work and the weather
Your guard is up and I know why.

Cause the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind.
You gave me roses and I left them there to die.

So this is me swallowing my pride,
Standing in front of you saying I'm sorry for that night,
And I go back to December all the time.
Turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing that I realized what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and make it all right.
I go back to December all the time.

These days I haven't been sleeping
Staying up playing back myself leaving,
When your birthday passed and I didn't call.
And I think about summer, all the beautiful times
I watched you laughing from the passenger side
Realized that I loved you in the fall.
Then the cold came, the dark days when fear crept into my mind.
You gave me all your love and all I gave you was goodbye.

So this is me swallowing my pride,
Standing in front of you saying I'm sorry for that night.
And I go back to December all the time.
Turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing that I realized what I had when you were mine.
I'd go back to December turn around and change my own mind.
I go back to December all the time

I miss your tan skin, your sweet smile, so good to me, so right,
And how you held me in your arms that September night,
The first time you ever saw me cry.
Maybe this is wishful thinking,
Probably mindless dreaming
If we loved again I swear I'd love you right.

I'd go back in time and change it but I can't
So if the chain is on your door, I understand.

But this is me swallowing my pride,
Standing in front of you saying I'm sorry for that night,
And I go back to December.
Turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing that I realized what I had when you were mine.
I'd go back to December turn around and make it alright.
I'd go back to December turn around and change my own mind.
I go back to December all the time.

All the time

Hahaha....


                Awalnya aku gak kenal kamu bahkan gak peduli sama kamu. Aku juga gak nyangka bakal kenal sama kamu seperti sekarang ini. Pertama aku kenal kamu biasa-biasa aja bahkan gak ada apapun yang istimewa. Tapi semua berubah semenjak tiap hari kita bertemu, bahkan liburan kita juga ketemu, wkwkwk :D
                Diam-diam aku sering memerhatikan mu, dan kamu tau gak kalau kamu manggil aku tu rasanya waw banget. Apalagi nek tiap latihan gitu, peduli banget kamu. Oiya waktu mau tampil kemarin jujur aku kaget banget waktu kamu merhatiin aku dengan cara nguntingin benang di saku jasku. Sampe segitu nya? :o yah aku gak tau akunya yang terlalu kepedean atau gimana :D tadi juga kan, di kelas banyak lho temen2ku, tapi kamu manggil aku buat nagsih tau kelas suruh ngosongin. Yaaah aku juga gak tau apa rasa ini bakal tragis kayak yang lain atau lebih indah.
                Aku cuma mau bilang aku kagum sama kamu, pokoknya gitu deh J

Rabu, 05 September 2012

Pergi Saja


Terima kasih tuk luka yang kau beri
Ku tak percaya kau tlah begini
Dulu kau menjadi malaikat di hati
Sampai hati kau telah begini
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
berkali-kali kau katakan sendiri
Kini ku tlah benci, cintaku tlah pergi

Pergi saja kau pergi, tak usah kembali
Percuma saja kini hanya mengundang perih
Cukup tahu ku dirimu, cukup sakit ku rasakan kini

Janji yang selalu ku ingat hingga mati
Kau setia hingga ku kembali
berkali-kali kau katakan sendiri
Kini ku tlah benci, cintaku tlah pergi


Pergi saja kau pergi, tak usah kembali
Percuma saja kini hanya mengundang perih
Buang saja kau buang cinta yang kemarin
Perasaan tak mungkin percayamu lagi
Cukup tahu ku dirimu, cukup sakit ku rasakan kini

Pergi saja kau pergi, tak usah kembali
Percuma saja kini hanya mengundang perih
Buang saja kau buang cinta yang kemarin
Ooo percayamu lagi
Tinggalkan saja diriku, semua kan percuma
Cukup tahu ku dirimu, cukup sakit ku rasakan kini